Jumat, 08 Februari 2013

Ceritaa

ARETA 
       Terik matahari siang itu serasa menusuk ubun-ubun Roy yang sedang melatih LBB adik-adik kelasnya di lapangan belakang sekolah mereka.
       “Siap... grak!!” komandonya lantang, “Bubar barisan...jalan!!”
       “Pelita Bangsa! Jaya! Jaya! Jaya!” seru anak-anak kelas X tak kalah lantang dengan Sang Komandan.

        Roy adalah cewek periang yang ramah dan mudah bergaul dengan siapa pun. Nggak heran siswa-siswi SMA Pelita Bangsa memilihnya untuk menjadi Ketua Osis di sekolahnya. Saat ini cewek yang pernah menyabet Juara I Olimpiade Geografi se-Jawa Timur tersebut duduk di kelas XI, tepatnya XI-IPS1.

      “Roy.. Roy! Ada berita gawat nih!” teriak cewek imut nan mungil dengan tiba-tiba sambil terengah-engah menghampiri Roy.
     “Apa sih, Sayang? Pelan-pelan dong ngomongnya. Nih, minum dulu,” diberikannya soft drink pada cewek yang menghampirinya tadi.
        “Itu, aku tadi liat Kak Are. Di sana tuh, di depan sekolah,” tunjuknya masih dengan terengah-engah.
       “Iya, so what? Itu kan tempat umum Nenny, siapa pun boleh main ke sana kan, termasuk Are,” jawab Roy masih nggak ngerti.
       “Maksut ane bukan gitu, Neng. Emang sih siapa pun boleh main ke sana, tapi apa kamu ngebolehin juga kalo Kak Are di sana sama kakak kelas kita,” terang Nenny puanjang banget. Roy masih mencerna kata-kata sahabatnya barusan sementara Nenny menambahkan, “Itu lho, kakak kelas kita yang digosipin lagi deket sama Kak Are. Hihh, lemot banget deh bo,” jelas Nenny makin geregetan.
       Roy kaget bukan main. “Apaa? Kak Reta yang itu ya? Ngapain mereka? Samperin yuk!” teriak Roy seraya menggeret paksa tangan Nenny ke depan sekolah, ke tempat Reta dan Are berada.

_______ .
      “Tu..tu.. Bener kan, lagi berduaan. Kira-kira ngapain ya Roy?” tanya Nenny dengan tampang bingungnya, lucu.
Kayaknya lagi mbahas pelajaran deh. Kak Retanya nunjuk-nunjukin buku. Mana ekspresinya serius banget lagi. Ya kan?” tebak Roy.
Iya sih, tapi kok berduaan. Nggak salah kan kalo kamu mastiin langsung ke Kak Are,” saran Nenny.
Iya-iya, pasti,” jawab Roy cepat.

_______ .
Sebenarnya Roy khawatir jika kedekatan Reta dan Are membahayakan hubungannya saat ini dengan Are, kekasihnya. Kelas mereka pun bersebelahan. Are di kelas XII-IPA2, sedangkan Reta di XII-IPA1. Sangat memungkinkan kalau mereka menjalin sesuatu di belakang Roy. Apalagi waktu kelas X mereka sempet duduk di kelas yang sama. 

Reta, cewek manis yang punya darah Madura adalah mantan Ketua PMR di SMA Pelita Bangsa yang pamornya nggak kalah gede sama Roy yang sekarang. Sedangkan Are adalah salah satu siswa cerdas yang berkali-kali ikut Olimpiade MIPA dan pulang dengan piala yang terukir “The Champion” yang kebetulan punya paras dan senyum khas Bandung. Cewek mana yang nggak ngiler ngeliat makhluk Tuhan yang nyaris sempurna kayak Are.

Banyak yang nge-fans Are, mulai siswi-siswi kelas X sampai kelas XII lebih banyak yang menyatakan bahwa Aku adalah penggemar Are daripada Biasa aja tuh. Tapi sayangnya Sang Pangeran justru nembak Roy, adik kelasnya yang memulai perkenalannya dengan Are dari OSIS. Dan begitulah, akhirnya mereka jadian yang menyebabkan “Are Fans’ Club” mundur perlahan.

Namun demikian, hubungan mereka berada di ambang kehancuran karena Roy yang sibuk dengan organisasi besar yang dibawahinya dan Are yang juga sibuk dengan persiapan UANnya. Ditambah lagi dengan berita yang tak kalah heboh, terlebih bagi Roy, adalah berita yang berkata bahwa ‘Sekarang Are nggak sama Roy ya, katanya udah jadian sama Reta lo, itu, yang katanya punya darah Madura. Idih, cucok banget deh. Turut bersuka cita lah’ yang Roy semakin dibuat bingung dengan perkataan-perkataan semacam itu.

______.
Keesokan harinya..
Hey!” seru cewek yang tak lain dan tak bukan adalah Roy, tentu saja seruan itu buat pacarnya, Are. Are yang dibuat kaget dengan seruan itu langsung refleks balik badan dari temen-temennya, “Hey Roy, lama nggak ketemu nih. Peri kecil punya kabar apa? Kantin yuk!” jawabnya seraya menggamit lembut tangan Roy.
Baik, kamu?” jawabnya singkat yang ternyata Are nggak peka dengan perubahan sikap Roy.
Aku juga baik. Eh, kamu mau makan apa? Bakso aja dehh, Kecil masih doyan bakso kan?” tawar Are menyertakan senyum mautnya. Mau nggak mau bibir mungil Roy membalas senyum kekasihnya dengan lembut pula, seperti biasanya. Wah, ternyata Roy udah lupa sebelum Are peka kalo dia bakal pura-pura marah sama Are berkat senyuman itu. Ajaib kan.
Ini, makan yang kenyang yah,” Are datang dengan membawa 2 mangkok bakso dan 2 es degan yang diletakkan di atas nampan. Roy cuma membalasnya dengan senyum agak kepaksa. Are yang merasa aneh dengan sikap Roy mulai bertanya, “Kamu kenapa sih, nggak laper? Kalo nggak laper kita pergi,” lagi Are mengambil sikap cepat dengan menggamit tangan Roy untuk diajak pergi dari kantin.
Aku laper kok, ayo balapan!!” Roy kembali bersikap biasa dan membuat Are juga biasa lagi. “Siapa takut? Serbu!” mereka kembali bertingkah seperti biasanya karena Roy sadar bahwa dia udah lama nggak gokil-gokilan sama pacar tercintanya itu.
Dari kejauhan terlihat cewek manis yang melihat kejadian tersebut, dan itu sangat membuatnya sakit. Saking nggak kuat lagi nahan air mata yang sebentar lagi bakal tumpah, cewek itu lari menuju kelasnya. Cewek itu adalah Reta, ‘Pengagum Rahasia’nya Are. Are yang nggak tau apa-apa tentang cewek yang sudah dibuatnya menangis berkali-kali itu tetep saja bertingkah mesra dengan Roy.

______.
         "Kemarin sama Kak Reta ya?” kata Roy tiba-tia setelah mereka balapan makan yang lagi-lagi dan selalu dimenangkan Are.
           Are kaget ditembak dengan pertanyaan yang nggak disangkanya sama sekali, terlebih pertanyaan itu dilontarkan Roy, masih bisa menenangkan keadaan. “Iya, kemarin Reta bilang kalo hari ini Pak Nizam ngasih ujian lisan. Katanya dia masih bingung tentang Listrik Dinamis. Aku bisa, ya dia aku bantu. Salah ya Roy?”
            “Oh,” jawab Roy lagi-lagi singkat.
        “Kamu kenapa sih? Udah nggak percaya lagi sama aku? Aku sayang kamu Roy, Cuma kamu,” gombalan khas cowoknya mulai keluar. “Iya, maaf. Soalnya kemarin nggak nyangka aja, waktu liat kamu berduaan sama Kak Reta. Kupikir kalian lagi ngapain. Kalo emang gitu ceritanya, yaudah. Aku bener-bener salah paham dan aku minta maaf karena udah nuduh kamu yang nggak-nggak sama Kak Reta,” sesal Reta kemudian.
           “Iya, gapapa kok. Yuk balik!” Are meraih lembut tangan Roy untuk kembali ke kelas masing-masing.
Aduh, kenapa mesti gini sih. Harusnya aku tau dong Are nggak mungkin ngapa-ngapain ama Kak Reta. Untungnya, Are milih aku. Hihi, Roy memikirkan kejadian barusan sambil senyum-senyum sendiri.

______.
Send to : Reta,ipa1 (04/03/2009 21.03)
hasilnya gimana, Ta? sukses kan? are, ;-)
 
Reta yang baru mengemasi buku-bukunya tertawa senang mendapat pesan dari pujaan hatinya, Are.

Send to : Areee (04/03/2009 21.08)
suksess dong. tapi hasilnya belum keluar, Re. keluarnya baru besok kali, doain yah :D

Dengan berdebar Reta menunggu balasan dari Are.

            Massage from : Areee (04/03/2009 21.17)
pasti. Ta, besok pulang sekolah aku tunggu di gerbang depan yak, ada yang mau aku omongin nih. bisa ?

Hwaa, apa-apaan? Beneran nih, Are ngajak ketemuan? Horee!” teriak Reta sambil berputar-putar kegirangan di dalam kamarnya. Segera dibalas dengan cepat pesan dari Are.

Send to : Areee (04/03/2009 21.23)
            bisa. tunggu yak

            Massage from : Areee (04/03/2009 21.27)
          sip dah :D

Adalah malam di mana memberikan kebahagiaan jiwa bagi tiga makhluk Tuhan yang hatinya saling terpaut. Mereka terlelap dalam mimpi indahnya masing-masing.

______.
        “Hey! Nunggu lama ya? Sorry telat, tadi masih rapat sama anak-anak,” seru Reta tiba-tiba disertai senyum manisnya.
           “Woy! Gapapa, aku juga baru nyampe kok,” jawab Are agak tergagap karena kaget.
           “Oh..,” Reta ber’Oh’ ria menanggapi jawaban Are.
           “Makan yuk!” ajak Are.
          “I think, it’s a good idea! Haha, aku juga laper banget nih, uhh,” jawab Reta sambil mengelus-ngelus perutnya berlagak lapar disertai tampang lucunya, membuat Are geregetan dan mengacak-acak pelan rambut Reta, “Hahaa, kaya kelaperan beneran aja, Neng. Ayo ah, aku juga laper neh!” teriak Are sambil menarik lembut tangan Reta. Reta yang tiba-tiba merasakan desiran halus di hatinya seketika menghentikan langkahnya.

        “Loh, kenapa Ta? Katanya laper, ayo makan,” Are juga mencoba menghentikan debar di hatinya dengan melepas tangannya dari tangan Reta.
Reta mencari arti tarikan tangan tadi pada mata Are. Dipandangnya mata bulat dan indah milik Are, pujaan hatinya itu. Kemudian...
      “Ayo! Laper berat nih. Lari!” seru Reta tiba-tiba seraya menggenggam erat tangan Are dan membawanya ke Warung Mie Ayam Wenaak milik Mak Ijah, langganan Reta dan Are waktu kelas X dulu.

______.
Ta,” panggil Are.
Iya, apa Re?” balas Reta sambil lembut.
Aku mau ngomong nih,” jawab Are lagi yang kini suaranya mulai bergetar.
Ngomong aja,” kini Reta makin sibuk dengan mie ayam yang masih bergumpal di mulutnya.
Reta, aku serius,” mata indah itu kini menatap mata Reta dalam.
Reta kaget, lalu menanggapi, “Kenapa Re? Ngomong aja, ak dengerin kok,” Reta deg-degan sekaligus menciut dengan tatapan Are saat itu.
Aku suka kamu, Ta,” ungkap Are dengan mata tetap memandang Reta, tak berpindah sesenti pun.
Eh? Hhk-hhk,” Reta tersedak, kaget, sebentar kemudian dia tersenyum, “Aku tau,” jawab Reta kemudian.
Aku sayang kamu, Ta” kali ini Are menunduk.
Aku tau!” lantang Reta.

Are kaget mendengar dua jawaban cepat itu, tapi diteruskan lagi ungkapan tadi, “Kelas XI. Sejak kelas XI, Ta, aku suka kamu. Tapi aku masi belum punya nyali sih buat nyatain ke kamu, waktu itu kamu tenar banget, aku yang biasa aja minder kalo harus dengan pede-nya bilang suka ke kamu,” terang Are tetep menunduk.
Di sisi lain Reta seneng karena ternyata cintanya nggak bertepuk sebelah tangan, tapi di sisi lain Reta merasa sedih karena pikirnya, semua sudah terlambat.
Terus kenapa Re? Kenapa baru bilang sekarang sekarang sih? Kamu udah sama Roy. Aku suka kamu sejak kelas X tauk! Tapi nggak ada respon apa-apa dari kamu. Sekarang aku bisa apa?!” jawab Reta setengah berteriak dan berlinangan air mata.
Are dibuat kaget lagi dengan jawaban Reta, “Aku emang bego sih, udah tau sukanya sama kamu, kenapa sih malah jadinya sama Roy. Aduh!!” sesal Are.
Nggak papa. Yang penting kamu udah tau isi hatiku. Aku lega, aku nggak lagi nyimpen ini sendirian. Aku juga sayang kamu, Re,” Reta tersenyum bijak sambl menepuk pundak kanan Are.
Makasih Ta, kamu emang yang terbaik,” kata Are seraya menyapu lembut pipi Reta yang berlinangan air mata. Kemudian melanjutkan, “Tunggu aku Ta, aku mau bilang ke Roy kalo...”
Stop!” potong Reta, “Apaa sih? Jalanin aja apa yang udah jalan. Semua bakal indah pada waktunya kok,” jelas Reta disertai senyum manis Maduranya.
Are lege sekaligus bahagia, “Makasih banget Ta. Nambah mie-nya sana! Kayaknya masih laper banget tuh! Haha..” candanya disertai senyum khas Are yang memang telah membuat Reta tergetar sejak pertama kali mereka bertemu.
Reta kembali bergetar, tapi segera ditepisnya rasa itu, “Haha, tau aja nih, pesenin satu lagi yak!”
Siap Tuan Putri!” lagaknya bak seorang pujaan hati.
Reta tersenyum geli melihat tingkah Are. Sampai kapan pun Are tetap menjadi Pujaan Hati-nya Reta. Dan sampai kapan pun Reta tetap menjadi Tuan Putri-nya Are.
______.



Reta bahagia. Dibukanya diary kesayangan miliknya.

Saturday - April 05, 2009
Dan semoga Tuhan mengabulkan
Apa yang menjadi harapan
Untukku di masa depan
Bersamamu wahai pujaan
Areta ____



Waah, akhirnya selese juga nih cerita. Silakan d comment yak teman-teman. Oiya, cerita ini cuma fiktif belaka loh, jadi kalo ada kesamaan nama, tempat, suasana, ato pun kisah, yakinlah, itu cuma kebetulan aja kok. Makasih.
By. Annisa El-Shofy


Tidak ada komentar:

Posting Komentar