ARETA
Terik
matahari siang itu serasa menusuk ubun-ubun Roy yang sedang melatih
LBB adik-adik kelasnya di lapangan belakang sekolah mereka.
“Siap...
grak!!” komandonya lantang, “Bubar barisan...jalan!!”
“Pelita
Bangsa! Jaya! Jaya! Jaya!” seru anak-anak kelas X tak kalah lantang
dengan Sang Komandan.
Roy
adalah cewek periang yang ramah dan mudah bergaul dengan siapa pun.
Nggak heran siswa-siswi SMA Pelita Bangsa memilihnya untuk menjadi
Ketua Osis di sekolahnya. Saat ini cewek yang pernah menyabet Juara I
Olimpiade Geografi se-Jawa Timur tersebut duduk di kelas XI, tepatnya
XI-IPS1.
“Roy..
Roy! Ada berita gawat nih!” teriak cewek imut nan mungil dengan
tiba-tiba sambil terengah-engah menghampiri Roy.
“Apa
sih, Sayang? Pelan-pelan dong ngomongnya. Nih, minum dulu,”
diberikannya soft drink pada cewek yang menghampirinya tadi.
“Itu,
aku tadi liat Kak Are. Di sana tuh, di depan sekolah,” tunjuknya
masih dengan terengah-engah.
“Iya,
so what? Itu kan tempat umum Nenny, siapa pun boleh main ke sana kan,
termasuk Are,” jawab Roy masih nggak ngerti.
“Maksut
ane bukan gitu, Neng. Emang sih siapa pun boleh main ke sana, tapi
apa kamu ngebolehin juga kalo Kak Are di sana sama kakak kelas kita,”
terang Nenny puanjang banget. Roy masih mencerna kata-kata sahabatnya
barusan sementara Nenny menambahkan, “Itu lho, kakak kelas kita
yang digosipin lagi deket sama Kak Are. Hihh, lemot banget deh bo,”
jelas Nenny makin geregetan.
Roy
kaget bukan main. “Apaa? Kak Reta yang itu ya? Ngapain mereka?
Samperin yuk!” teriak Roy seraya menggeret paksa tangan Nenny ke
depan sekolah, ke tempat Reta dan Are berada.
_______
.
“Tu..tu..
Bener kan, lagi berduaan. Kira-kira ngapain ya Roy?” tanya Nenny
dengan tampang bingungnya, lucu.
“Kayaknya
lagi mbahas pelajaran deh. Kak Retanya nunjuk-nunjukin buku. Mana
ekspresinya serius banget lagi. Ya kan?” tebak Roy.
“Iya
sih, tapi kok berduaan. Nggak salah kan kalo kamu mastiin langsung ke
Kak Are,” saran Nenny.
“Iya-iya,
pasti,” jawab Roy cepat.
_______
.
Sebenarnya
Roy khawatir jika kedekatan Reta dan Are membahayakan hubungannya
saat ini dengan Are, kekasihnya. Kelas mereka pun bersebelahan. Are
di kelas XII-IPA2, sedangkan Reta di XII-IPA1. Sangat memungkinkan
kalau mereka menjalin sesuatu di belakang Roy. Apalagi waktu kelas X
mereka sempet duduk di kelas yang sama.
Reta,
cewek manis yang punya darah Madura adalah mantan Ketua PMR di SMA
Pelita Bangsa yang pamornya nggak kalah gede sama Roy yang sekarang.
Sedangkan Are adalah salah satu siswa cerdas yang berkali-kali ikut
Olimpiade MIPA dan pulang dengan piala yang terukir “The Champion”
yang kebetulan punya paras dan senyum khas Bandung. Cewek mana yang
nggak ngiler ngeliat makhluk Tuhan yang nyaris sempurna kayak Are.
Banyak
yang nge-fans Are, mulai siswi-siswi kelas X sampai kelas XII lebih
banyak yang menyatakan bahwa Aku
adalah penggemar Are
daripada Biasa
aja tuh. Tapi
sayangnya Sang Pangeran justru nembak Roy, adik kelasnya yang memulai
perkenalannya dengan Are dari OSIS. Dan begitulah, akhirnya mereka
jadian yang menyebabkan “Are Fans’ Club” mundur perlahan.
Namun
demikian, hubungan mereka berada di ambang kehancuran karena Roy yang
sibuk dengan organisasi besar yang dibawahinya dan Are yang juga
sibuk dengan persiapan UANnya. Ditambah lagi dengan berita yang tak
kalah heboh, terlebih bagi Roy, adalah berita yang berkata bahwa
‘Sekarang Are nggak
sama Roy ya, katanya udah jadian sama Reta lo, itu, yang katanya
punya darah Madura. Idih, cucok banget deh. Turut bersuka cita lah’
yang Roy semakin dibuat
bingung dengan perkataan-perkataan semacam itu.
______.
Keesokan
harinya..
“Hey!”
seru cewek yang tak lain dan tak bukan adalah Roy, tentu saja seruan
itu buat pacarnya, Are. Are yang dibuat kaget dengan seruan itu
langsung refleks balik badan dari temen-temennya, “Hey Roy, lama
nggak ketemu nih. Peri kecil punya kabar apa? Kantin yuk!” jawabnya
seraya menggamit lembut tangan Roy.
“Baik,
kamu?” jawabnya singkat yang ternyata Are nggak peka dengan
perubahan sikap Roy.
“Aku
juga baik. Eh, kamu mau makan apa? Bakso aja dehh, Kecil masih doyan
bakso kan?” tawar Are menyertakan senyum mautnya. Mau nggak mau
bibir mungil Roy membalas senyum kekasihnya dengan lembut pula,
seperti biasanya. Wah, ternyata Roy udah lupa sebelum Are peka kalo
dia bakal pura-pura marah sama Are berkat senyuman itu. Ajaib kan.
“Ini,
makan yang kenyang yah,” Are datang dengan membawa 2 mangkok bakso
dan 2 es degan yang diletakkan di atas nampan. Roy cuma membalasnya
dengan senyum agak kepaksa. Are yang merasa aneh dengan sikap Roy
mulai bertanya, “Kamu kenapa sih, nggak laper? Kalo nggak laper
kita pergi,” lagi Are mengambil sikap cepat dengan menggamit tangan
Roy untuk diajak pergi dari kantin.
“Aku
laper kok, ayo balapan!!” Roy kembali bersikap biasa dan membuat
Are juga biasa lagi. “Siapa takut? Serbu!” mereka kembali
bertingkah seperti biasanya karena Roy sadar bahwa dia udah lama
nggak gokil-gokilan sama pacar tercintanya itu.
Dari
kejauhan terlihat cewek manis yang melihat kejadian tersebut, dan itu
sangat membuatnya sakit. Saking nggak kuat lagi nahan air mata yang
sebentar lagi bakal tumpah, cewek itu lari menuju kelasnya. Cewek itu
adalah Reta, ‘Pengagum Rahasia’nya Are. Are yang nggak tau
apa-apa tentang cewek yang sudah dibuatnya menangis berkali-kali itu
tetep saja bertingkah mesra dengan Roy.
______.
"Kemarin
sama Kak Reta ya?” kata Roy tiba-tia setelah mereka balapan makan
yang lagi-lagi dan selalu dimenangkan Are.
Are
kaget ditembak dengan pertanyaan yang nggak disangkanya sama sekali,
terlebih pertanyaan itu dilontarkan Roy, masih bisa menenangkan
keadaan. “Iya, kemarin Reta bilang kalo hari ini Pak Nizam ngasih
ujian lisan. Katanya dia masih bingung tentang Listrik Dinamis. Aku
bisa, ya dia aku bantu. Salah ya Roy?”
“Oh,”
jawab Roy lagi-lagi singkat.
“Kamu
kenapa sih? Udah nggak percaya lagi sama aku? Aku sayang kamu Roy,
Cuma kamu,” gombalan khas cowoknya mulai keluar. “Iya, maaf.
Soalnya kemarin nggak nyangka aja, waktu liat kamu berduaan sama Kak
Reta. Kupikir kalian lagi ngapain. Kalo emang gitu ceritanya, yaudah.
Aku bener-bener salah paham dan aku minta maaf karena udah nuduh kamu
yang nggak-nggak sama Kak Reta,” sesal Reta kemudian.
“Iya,
gapapa kok. Yuk balik!” Are meraih lembut tangan Roy untuk kembali
ke kelas masing-masing.
Aduh,
kenapa mesti gini sih. Harusnya aku tau dong Are nggak mungkin
ngapa-ngapain ama Kak Reta. Untungnya, Are milih aku. Hihi,
Roy memikirkan kejadian barusan sambil senyum-senyum sendiri.
______.
Send
to : Reta,ipa1 (04/03/2009 21.03)
hasilnya
gimana, Ta? sukses kan? are, ;-)
Reta yang baru
mengemasi buku-bukunya tertawa senang mendapat pesan dari pujaan
hatinya, Are.
Send
to : Areee (04/03/2009 21.08)
suksess
dong. tapi hasilnya belum keluar, Re. keluarnya baru besok kali,
doain yah :D
Dengan
berdebar Reta menunggu balasan dari Are.
Massage
from : Areee (04/03/2009 21.17)
pasti.
Ta, besok pulang sekolah aku tunggu di gerbang depan yak, ada yang
mau aku omongin nih. bisa ?
“Hwaa,
apa-apaan? Beneran nih, Are ngajak ketemuan? Horee!” teriak Reta
sambil berputar-putar kegirangan di dalam kamarnya. Segera dibalas
dengan cepat pesan dari Are.
Send
to : Areee (04/03/2009 21.23)
bisa.
tunggu yak
Massage
from : Areee (04/03/2009 21.27)
sip
dah :D
Adalah
malam di mana memberikan kebahagiaan jiwa bagi tiga makhluk Tuhan
yang hatinya saling terpaut. Mereka terlelap dalam mimpi indahnya
masing-masing.
______.
“Hey!
Nunggu lama ya? Sorry telat, tadi masih rapat sama anak-anak,” seru
Reta tiba-tiba disertai senyum manisnya.
“Woy!
Gapapa, aku juga baru nyampe kok,” jawab Are agak tergagap karena
kaget.
“Oh..,”
Reta ber’Oh’
ria menanggapi jawaban Are.
“Makan
yuk!” ajak Are.
“I
think, it’s a good idea! Haha, aku juga laper banget nih, uhh,”
jawab Reta sambil mengelus-ngelus perutnya berlagak lapar disertai
tampang lucunya, membuat Are geregetan dan mengacak-acak pelan rambut
Reta, “Hahaa, kaya kelaperan beneran aja, Neng. Ayo ah, aku juga
laper neh!” teriak Are sambil menarik lembut tangan Reta. Reta yang
tiba-tiba merasakan desiran halus di hatinya seketika menghentikan
langkahnya.
“Loh,
kenapa Ta? Katanya laper, ayo makan,” Are juga mencoba menghentikan
debar di hatinya dengan melepas tangannya dari tangan Reta.
Reta
mencari arti tarikan tangan tadi pada mata Are. Dipandangnya mata
bulat dan indah milik Are, pujaan hatinya itu. Kemudian...
“Ayo!
Laper berat nih. Lari!” seru Reta tiba-tiba seraya menggenggam erat
tangan Are dan membawanya ke Warung Mie Ayam Wenaak milik Mak Ijah,
langganan Reta dan Are waktu kelas X dulu.
______.
“Ta,”
panggil Are.
“Iya,
apa Re?” balas Reta sambil lembut.
“Aku
mau ngomong nih,” jawab Are lagi yang kini suaranya mulai bergetar.
“Ngomong
aja,” kini Reta makin sibuk dengan mie ayam yang masih bergumpal di
mulutnya.
“Reta,
aku serius,” mata indah itu kini menatap mata Reta dalam.
Reta
kaget, lalu menanggapi, “Kenapa Re? Ngomong aja, ak dengerin kok,”
Reta deg-degan sekaligus menciut dengan tatapan Are saat itu.
“Aku
suka kamu, Ta,” ungkap Are dengan mata tetap memandang Reta, tak
berpindah sesenti pun.
“Eh?
Hhk-hhk,” Reta tersedak, kaget, sebentar kemudian dia tersenyum,
“Aku tau,” jawab Reta kemudian.
“Aku
sayang kamu, Ta” kali ini Are menunduk.
“Aku
tau!” lantang Reta.
Are
kaget mendengar dua jawaban cepat itu, tapi diteruskan lagi ungkapan
tadi, “Kelas XI. Sejak kelas XI, Ta, aku suka kamu. Tapi aku masi
belum punya nyali sih buat nyatain ke kamu, waktu itu kamu tenar
banget, aku yang biasa aja minder kalo harus dengan pede-nya bilang
suka ke kamu,” terang Are tetep menunduk.
Di
sisi lain Reta seneng karena ternyata cintanya nggak bertepuk sebelah
tangan, tapi di sisi lain Reta merasa sedih karena pikirnya, semua
sudah terlambat.
“Terus
kenapa Re? Kenapa baru bilang sekarang sekarang sih? Kamu udah sama
Roy. Aku suka kamu sejak kelas X tauk! Tapi nggak ada respon apa-apa
dari kamu. Sekarang aku bisa apa?!” jawab Reta setengah berteriak
dan berlinangan air mata.
Are
dibuat kaget lagi dengan jawaban Reta, “Aku emang bego sih, udah
tau sukanya sama kamu, kenapa sih malah jadinya sama Roy. Aduh!!”
sesal Are.
“Nggak
papa. Yang penting kamu udah tau isi hatiku. Aku lega, aku nggak lagi
nyimpen ini sendirian. Aku juga sayang kamu, Re,” Reta tersenyum
bijak sambl menepuk pundak kanan Are.
“Makasih
Ta, kamu emang yang terbaik,” kata Are seraya menyapu lembut pipi
Reta yang berlinangan air mata. Kemudian melanjutkan, “Tunggu aku
Ta, aku mau bilang ke Roy kalo...”
“Stop!”
potong Reta, “Apaa sih? Jalanin aja apa yang udah jalan. Semua
bakal indah pada waktunya kok,” jelas Reta disertai senyum manis
Maduranya.
“Are
lege sekaligus bahagia, “Makasih banget Ta. Nambah mie-nya sana!
Kayaknya masih laper banget tuh! Haha..” candanya disertai senyum
khas Are yang memang telah membuat Reta tergetar sejak pertama kali
mereka bertemu.
Reta
kembali bergetar, tapi segera ditepisnya rasa itu, “Haha, tau aja
nih, pesenin satu lagi yak!”
“Siap
Tuan Putri!” lagaknya bak seorang pujaan hati.
Reta
tersenyum geli melihat tingkah Are. Sampai kapan pun Are tetap
menjadi Pujaan Hati-nya Reta. Dan sampai kapan pun Reta tetap menjadi
Tuan Putri-nya Are.
______.
Reta bahagia.
Dibukanya diary kesayangan miliknya.
Saturday
- April 05, 2009
Dan
semoga Tuhan mengabulkan
Apa
yang menjadi harapan
Untukku
di masa depan
Bersamamu
wahai pujaan
Areta
____
Waah,
akhirnya selese juga nih cerita. Silakan d comment yak teman-teman.
Oiya, cerita ini cuma fiktif belaka loh, jadi kalo ada kesamaan nama,
tempat, suasana, ato pun kisah, yakinlah, itu cuma kebetulan aja kok.
Makasih.
By.
Annisa El-Shofy
Tidak ada komentar:
Posting Komentar